Sebuah cerita tentang bidan ( untuk seorang teman )
Rabu, 24 Februari 2010
Hari itu hujan membasahi bumi, berton-ton air tertumpah membasahi tanah yang selalu merindukannya, dedaunan basah, dan akar-akar pohon mulai bekerja menyerap air untuk kelangsungan hidupnya, di puncak bukit disebelah utara tampak dua ekor burung kutilang sedang bersembunyi, berteduh sekaligus bermesaraan disebatang dahan pohon cemara.
Disebuah rumah yang terletak di kaki bukit tersebut, tampak seorang gadis berjilbab, sedang termenung didalam kamarnya, menatap kosong kearah jendela sambil berharap sang mentari akan segera bersinar, menyeruak diantara awan-awan hitam yang kini menghiasi bumi. Dia tau disana di tempat dia bekerja banyak para ibu yang sedang menanti kedatangannya, ya… karena dialah satu-satunya bidan yang berada didesa tempat dia sekarang ditugaskan, Bidan Ana begitulah biasa dia dipanggil.
1000 Tahun Lalu Tuhan Sudah Tahu Kita Akan Minum Kopi Malam Ini
“Kira-kira seribu tahun lalu Tuhan tau nggak kita akan bertemu malam ini?”
He? Wanita cantik ini langsung membuka pertemuan kali ini dengan pertanyaan. Aku langsung menganggukkan kepala.
“Berarti telah banyak yang dilakukan Tuhan untuk pertemuan kita malam ini. Kalau dilihat dari apa yang ada di meja kita, Tuhan harus melahirkan bill gates dan ribuan ilmuwannya untuk laptop ini, Thomas alfa Edison untuk listriknya. Tuhan juga sudah mempersiapkan kopi dan segala kerumitan perdagangannya. Melahirkan karl marx untuk buku ini”
Tahun Kunjung Museum, Keliling Museum, dan Perlindungan Bangunan Bersejarah
Akhir pekan ini, selain ajakan Komunitas Historia Indonesia menjelajah Cirebon dan Komunitas Sahabat Museum membatik di Museum Tekstil sambil mengenal Tanahabang, ada banyak alternatif lain bisa dikemas sendiri. Misalnya, keliling ke beberapa museum di Jakarta. Sekadar mengingatkan, tahun ini Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata menetapkan sebagai tahun dimulainya Gerakan Nasional Cinta Museum melalui Tahun Kunjung Museum (TKM) 2010. Program itu akan terus berlangsung hingga 2014 dengan berbagai agenda penting seperti pembenahan museum.
Memang, TKM 2010 dilempar ke masyarakat pada akhir tahun lalu sehingga gaungnya bisa dibilang tak ada. Masih banyak pertanyaan tentang apa itu TKM 2010, museum mana yang diunggulkan, apa yang bisa dilihat. Atau malah pernyataan kaget, “Oh, tahun kunjung museum? Apa itu?” Begitulah, selalu saja terkesan terburu-buru dan tanpa sosialisasi, publikasi yang menyeluruh sehingga bukan hanya masyarakat yang bertanya-tanya, bahkan pihak museum sendiri terkesan belum atau tidak siap.
Masjid Merah Panjunan, Masjid dari Lima Abad Silam
Senin, 8 Februari 2010 | 15:39 WIB
KOMPAS.com — Dilihat dari luar, Masjid Merah Panjunan sangat menarik perhatian, terutama bagi orang yang baru pertama kali datang ke Cirebon, Jawa Barat. Warna merah bata mendominasi keseluruhan bangunan yang didirikan pada tahun 1480 ini.Masjid Merah Panjunan terletak di Kampung Panjunan, kampung pembuat jun atau keramik porselen. Bangunan ini didirikan oleh Pangeran Panjunan yang adalah murid Sunan Gunung Jati, salah satu dari Wali Songo (Sembilan Wali), penyebar Islam di Jawa.
Dalam sebuah catatan sejarah yang mengacu pada Babad Tjerbon, nama asli Pangeran Panjunan adalah Maulana Abdul Rahman. Dia memimpin sekelompok imigran Arab dari Baghdad. Sang pangeran dan keluarganya mencari nafkah dari membuat keramik. Sampai sekarang, anak keturunannya masih memelihara tradisi kerajinan keramik itu, meski kini lebih untuk tujuan spiritual ketimbang komersial.
Melayang di Jurang Sambil Dengar Kisah Misteri Terowongan Sasaksaat
Sabtu, 13 Februari 2010 | 11:54 WIB
DALAM perjalanan rombongan Heritage Trip Jakarta-Bandung yang diadakan PT Kereta Api (Persero) – PT KA (Persero) – tak hanya bangunan di Kota Bandung bisa dinikmati. Di sepanjang perjalanan dari Jakarta menuju Bandung, pemandangan bangunan tua sudah bisa disaksikan, seperti Stasiun Transmisi Cikampek, Stasiun Lemahabang, Cikampek, dan Karawang, yang dibangun sejak tahun 1894."Yang saya pernah tahu dari pelajaran sejarah, di Lemahabang, Karawang, dan Cikampek jadi lokasi perlindungan setelah tempat-tempat itu direbut oleh pejuang Indonesia dari Belanda. Jalur ini juga penting pada zaman itu sampai sekarang karena untuk jalur angkutan logistik pangan dan perang. Sekarang pun jadi jalur untuk angkutan batubara ke sejumlah industri di Karawang, Bekasi, dan Cikampek," kata Shirley, salah satu pehobi cagar budaya, yang ikut dalam perjalanan tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)

